KISAH SYEIKH ABDUL QODIR AL JAILANI MENDAPAT GELAR RAJA PARA WALI | KISAH ISLAMI
Sahabat RQ rahima Kumullah tentu tidak asing lagi dengan ulama kharismatik Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani. Beliau merupakan ulama besar yang menyandang gelar sulthanul auliya (raja para wali).Dalam sejarah Islam, setiap abad akan ditemukan satu orang yang menjadi tokoh besar Islam berstatus mujaddid/seorang tokoh pembaharu. Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwasanya Allah akan mengirimkan seorang tokoh pembaharu dalam Islam ditiap 100 tahun sekali yang akan membawa pengaruh besar dalam sejarah umat Islam. Jika pada abad ke 11 M / 5 H, sejarah islam memiliki tokoh Imam al-Ghazali yang terkenal akan gelar hujjatul islam-nya yang mampu mengkolaborasikan antara ruang syariat dengan tarikat dan memiliki karya Ihya’ ‘Ulum ad-Din yang hingga saat ini masih dijadikan rujukan umat islam dalam praktik beribadah. Maka pada abad ke 12 M/ 6 H sebelum munculnya tokoh masyhur Imam Fakhruddin ar-Razi, kedudukan mujaddid dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang mendapat predikat sulthanul auliya’ atau pemimpin para wali.
Seperti Halnya Imam al-Ghazali, Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani justru masyhur akan praktik tarikat atau amaliyah sufismenya. Sehingga tidak jarang masyarakat menyelipkan nama beliau pada setiap kegiatan amaliyah untuk menghormati melalui kiriman doa atau yang sering disebut dengan tawasul. Bahkan perjalanan hidup Syeikh Abdul Qadir al-Jaelani hingga kini masih terkenang dengan baik di kalangan masyarakat dengan kegiatan manaqibnya atau pembacaan riwayat hidup beliau. Tidak heran jikalau nama beliau tidak asing bagi umat muslim di Indonesia.
Sahabat RQ rahima Kumullah, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang memiliki gelar sulthonul auliya ini telah termaktub dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali Hasan Baharun. Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani saat memperoleh gelar sulthanul auliya’. Dalam kitab tersebut diceritakan bahwa ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani menimba ilmu beliau memiliki dua teman yang sangat cerdas, mereka adalah Ibnu Saqa’ dan Ibnu Abi ‘Asrun. Pertemanan mereka berlanjut hingga suatu saat mereka ingin pergi ke daerah pelosok untuk menjumai seorang wali yang dikenal dengan istilah wali al-ghauts. Mereka bertiga pergi dengan niat dan tujuan yang berbeda. Ibnu Saqa’ dan Ibnu Abi ‘Asrun berniat ingin menguji kewalian wali al-ghauts dengan sebuah pertanyaan sulit yang telah mereka siapkan. Dan mereka berdua yakin pertanyaannya tidak akan mampu terjawab oleh wali al-ghouts.
“Hei Saqa, apa tujuanmu ingin bertemu wali al-ghouts?” tanya ibnu abi asrun.
“Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, karena aku orang cerdas, sudah sepatutnya aku menguji kedalaman ilmu dari seorang wali,” jawab ibnu saqa.
lau Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya “Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya Ibnu Abi `Asrun.
Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali.
Sahabat RQ rahima Kumullah, karena Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak mengatakan niatnya, mereka berdua bertanya kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani “qadir,,,kalau kamu ingin mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?” tanya ibnu saqa “Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya. Lalu mereka pun bertanya lagi. “Lantas apa yang kamu inginkan? Apakah kamu Hanya ingin mengikuti kami?” tutur mereka.
“Saya tidak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah dari beliau. Itu saja cukup, karena orang seperti beliau biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jawab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.
Dari dialog mereka, kita dapat melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT. Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya.
Sahabat RQ rahima Kumullah, Sesampainya mereka di kediaman wali al-ghouts, mereka langsung mengetuk pintu rumah wali tersebut. Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya. “Siapa di antara kalian yang bernama ibnu saqa?” Tanya beliau,
“Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa. Tanpa banyak bicara, wali tersebut pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapan beliau. Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali al-ghouts meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya. “Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.”
Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata. “Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!”
Sahabat RQ rahima Kumullah, Selang beberapa hari dari kejadian aneh tersebut, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani. Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya ibnu saqa menemui ayah dari gadis tersebut untuk menyampakan bahwa dia sungguh mencintai anaknya dan siap berkorban apapun. Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani. Abi Asrun menjadi lupa karena diangkat menjadi raja yang mengurusi persoalan wakaf dan harta dunia. Di sisi lain, karena sikap rendah hati Abdul Qadir kepada seorang wali. beliau mendapatkan maqam tertinggi dari Allah Swt, beliau diangkat menjadi sulthanul auliya’ / Raja dari seluruh para wali di muka bumi.
Sahabat RQ rahima Kumullah, Dalam Kitab Qalaidul Jawahir, Habib Umar Muthohar menceritakan bahwa diantara cerita lain, ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam suatu majelis ilmu mengatakan “qadami ‘ala raqabatin kulli waliyin” yang artinya adalah “telapak kakiku berada di atas leher semua wali”. Pada saat itu, Syaikh al-Hakari yang juga berada di dalam mejelis tersenut langsung mencium kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Dengan maksud taslim bahwa memang benar kedudukan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tinggi di sisi Allah.
Pada zaman itu juga, hidup seorang sufi dan wali besar yang bernama Sayyidi Ahmad ar-Rifa’i yang tinggal di Umm Ubaidah. Diceritakan bahwa saat itu beliau sedang berkhalwat di zawiyahnya atau tempat yang digunakan beliau untuk mengajar murid-muridnya. Ketika para muridnya sedang menunggu beliau selesai berkhalwat, tiba-tiba jendela tempat berkhalwat itu terbuka dan terdengar Sayyidi Ahmad ar-Rifa’i mengatakan “shodaqa Abdul Qadir” lalu jendelanya menutup kembali. Lantas semua murid beliau penasaran dengan apa maksud ucapan dari sang guru. Memang semua murid Sayyidi Ahmad ar-Rifa’i juga mengetahui bahwa pada masa itu juga hidup seorang waliyullah besar yang bernama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ternyata setelah diteliti, dan diurutkan berdasarkan waktu pengucapan beliau, ucapan itu keluar bersamaan ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan “qadami ‘ala raqabatin kulli waliyin”. Padahal tempat Sayyidi Ahmad ar-Rifa’i yang berada di daerah Umm Ubaidah berjarak sejauh 600 KM dari Baghdad atau tempat Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tinggal.
Sahabat RQ rahima Kumullah, Begitulah dunia para wali, Sayyidi Ahmad ar-rifa’i mempu menyatakan pengakuan akan telapak kaki Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berada di atas leher semua para wali, walaupun jarak di antara keduanya sangatlah jauh. Para wali diberikan keistimewaan Allah Subhanahu wa ta’ala berupa kasyaf atau mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya, mampu berkomunikasi jarak jauh dengan kejernihan hati, dan lain sebagainya. Memang kisah para wali tentu memberi pelajaran sebagai pengingat dan untuk menguatkan iman.
Sahabat RQ rahima Kumullah, hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini adalah, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak. Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.
.png)